Istiqamah

Zaman boleh berganti, waktu boleh juga sudah berlalu, namun keimanan haruslah tetap berada di dalam hati selalu, hingga nanti tiba saatnya kita menghadap sang Illahi. Tekanan dalam hidup bolehlah datang menerpa kita silih berganti, namun benteng hati kita yaitu keimanan kita haruslah tetap berada di depan.

Iman kita tidak boleh bengkok, rapuh apalagi lenyap. Iman harus tetap kuat dan kokoh dan selalu eksis di dalam kita menghadapi ujian, tantangan, bahkan ancaman dan serangan yang datang bertubi-tubi ke dalam kehidupan kita.

Dalam Islam, iman adalah perkara asasi. Ia lebih penting daripada segala urusan penting manusia. Iman menjadi penentu diterima atau tidaknya segala kebaikan. Tanpa iman segala amal baik tidak bernilai di sisi Allah. Dengan iman, sesederhana apapun, segala amal baik akan mendapatkan balasan yang lebih baik. [QS(16):97].

Dengan demikian tidak ada urusan yang paling mendasar, penting dan utama bagi setiap muslim, selain menjaga kualitas iman dan senantiasa meningkatkannya. Dari Abu Amr atau Abu Amrah Sufyan bin Abdullah, ia berkata, “Saya berkata kepada Rasulullah,’Wahai Rasulullah, ajari saya suatu ucapan yang megandung ajaran Islam dan saya tidak perlu lagi bertanya kepada siapa pun selain Anda’.” Rasulullah menjawab, “Katakanlah, aku beriman kepada Allah, kemudian bersikap istiqamah.”(HR Muslim).

Dalam kitab Riyadhus Shalihin, Imam Nawawi menjabarkan bahwa Istiqamah adalah sikap konsisten dalam taat kepada Allah. Allah berfirman, “Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu…”[QS (11):112]. Hal inilah yang mendorong Umar bin Khathab tetap dalam kesederhanaan sekalipun telah mengemban amanah sebagai seorang khalifah. Begitu pula halnya dengan Ali bin Abi Thalib yang tetap bahagia meskipun bekerja sebagai pengangkut air pada seorang majikan yang beragama Yahudi.

Termasuk Sayyidinah Fathimah, putri kesayangan Rasulullah SAW. Sebagai putri nabi, Fathimah tetap memilih hidup dengan usaha sendiri. Setiap hari Fathimah bekerja menggiling gandum hingga melepuh telapak tangannya. Demikian pula dengan Ashabul Kahfi, sekelompok pemuda yang teguh memegang iman dalam situasi jaman yang penuh kejahiliyahan. Dalam situasi seperti itu, pemuda Ashabul Kahfi itu memohon keselamatan dan keteguhan iman [QS(18): 10, 13, 14].

Semua itu dilakukan bukan karena mereka antidunia, tetapi lebih karena ingin kedekatan hatinya kepada Allah SWT tidak terganggu (istiqamah). Dunia cukuplah bisa menegakkan tulang rusuk guna beribadah kepada-Nya, demikan salah satu pesan Nabi. Harta, tahta dan wanita kadang membuat manusia tidak istiqamah dalam iman, seperti Qarun dan Tsa’labah. Demi dunia, mereka berdua rela melepas imannya. Padahal balasan bagi muslim yang istiqamah adalah surga. “Sesunguhnya orang-orang yang mengatakan, “Tuhan kami ialah Allah, kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.”[QS(46); 13, 14].

 

Sumber : Harian Republika Sabtu, 9 Juni 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s