Membuat Bahagia Orang Lain

Abu Hurairah RA meriwayatkan, Nabi SAW bersabda, “Perbuatan paling baik adalah engkau memasukkan kebahagiaan kepada saudara yang mukmin dan Muslim, atau engkau membayar utangnya, atau memberinya roti.” (Hadits Hasan). Menurut yang diriwayatkan Ibnu Abu ad-Dunya dan Imam Ahmad bin Hambal diatas, setidaknya ada tiga amal soleh yang dikategorikan sebagai amal paling baik menurut Rasulullah SAW. Pertama, memberikan kebahagiaan kepada saudaranya yang mukmin dan Muslim.

Menurut Syekh al-Ghazali dalam bukunya Kimiyyah al-Sa’adah, kimia kebahagiaan itu adalah mempersepsikan dunia dan akhirat dengan benar untuk menghadap kepada Allah SWT. Menurutnya, kimia kebahagiaan itu terdiri atas empat elemen, yaitu pengetahuan tentang diri, pengetahuan tentang Allah, pengetahuan tentang dunia, dan pengetahuan tentang akhirat.

Orang yang memiliki ilmu (alim/ulama) bisa menunjukkan bagaimana manusia mampu menemukan kebahagiaan hakikinya, sebagaimana yang disampaikan Syekh al-Ghazali tersebut. Para dermawan bisa memberikan hartanya untuk memberikan kebahagiaan tersebut kepada saudara-saudaranya yang sangat membutuhkan. Setiap Ramadhan, Rasulullah bersedekah lebih kencang dibanding bulan lainnya. Para hartawan, semestinya, juga demikian. Diminta maupun tidak, harusnya senantiasa mendistribusikan hartanya kepada dhuafa dan orang-orang yang membutuhkan [QS(2): 177].

Begitu pula bagi para pemimpin. Dengan segala wewenangnya, seharusnya dia mampu memberikan kesejahteraan bagi rakyatnya. Umar bin Khattab ketika menjadi khalifah selalu melakukan pengecekan langsung di lapangan. Umar bin Khattab sering menolong rakyat, mengambilkan air, memikul gandum, ataupun lainnya. Suatu malam, Thalhah melihat Umar masuk ke rumah seorang perempuan. Pada keesokan harinya, Thalhah mendatangi rumah perempuan itu. Setelah mendapatkan izin untuk masuk, ternyata di dalam rumah itu tinggal seorang perempuan tua yang sudah lemah, buta, dan lumpuh.

Thalhah bertanya kepada perempuan tersebut, “Apa yang diperbuat orang laku-laki tadi malam di rumahmu?” Perempuan itu menjawab, “Orang (Umar) itu sudah sejak lama datang kepadaku dengan membawa sesuatu sehingga bisa membuatku bahagia dan terhindar dari segala gangguan.” [HR Abu Nu’aim, dalam al-Hilyah]. Amalan saleh kedua adalah membayarkan hutang saudaranya. Ini merupakan amalan yang sangat luar biasa, karena aghniya'(orang kaya) memiliki kemampuan untuk melepaskan orang lain dari berutang, dari rasa ketakutan, kegelisahan, tertekan, diteror, rasa didominasi, dan rasa direndahkan harga dirinya. Maka, wajar Allah memberikan pahala yang begitu besar kepada para aghniya’ ini. [Hadits ke-247 dan 248 dalam Riyadus Shalihin].

Amalan saleh ketiga adalah memberikan roti atau makan [QS (76): 8-9]. Memberikan makan juga harus yang terbaik, yakni sebagaimana yang biasa kita makan. Jangan sampai makanan sisa dan basi justru kita berikan kepada orang lain, padahal kita sendiri enggan untuk memakannya.

 

Sumber : Harian Republika Kamis, 20 September 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s