Selamat Tinggal Nasi Basi

Di ujung sebuah gang sempit di pinggiran ibu kota, Maman mematikan mesin motornya. Ia merasa tidak enak kalau bunyi motor tuanya mengganggu tetangga sekelilingnya di malam yang sudah cukup larut.

Hari ini dia pulang malam lagi karena ada rapat penting di kantornya.

Setiap ada rapat, ia selalu menunggu di ruangannya sambil menonton televisi. Bila rapat sudah selesai, tibalah waktunya ia bekerja. Membereskan mejad dan kursi, membuang sisa-sisa konsumsi dan mencuci cangkir-cangkir kopi para manajer. Untungnya, Maman sudah mahir melakukannya, sehingga kurang dari satu jam, ia sudah menyelesaikan semua tugasnya.

Setiap rapat pasti menyisakan dus-dus makanan yang berlebih. Bentar karena memang sengaja dipesan berlebih atau karena ada beberapa manajer yang tidak menyentuh jatah konsumsinya.

Hari ini sisa delapan, kata Maman pada dirinya sendiri. Ia membuka tutup dus untuk mengintip isinya, sambil menimbang-nimbang sampai kapan kira-kira nasi ini layak dimakan sebelum akhirnya basi.

Sepertinya layak tahan sampai besok pagi, prediksi Maman. Ia pun membawa empat dus ke pos satpam, sekalian menyerahkan kunci gedung. Lantas, ia pulang sambil menenteng empat dus makanan.

Dua untuk malam ini, dua lagi untuk besok pagi. Lumayan buat hemat biaya makan hari ini dan besok pagi, pikir Maman.

Untuk seorang office-boy di ibukota, ia harus giat menabung agar adik-adiknya di kampung bisa terus bersekolah.

Saat memasuki rumahnya, bau khas rumah pun tercium, yaitu bau basi yang menyengat.

Pasti sisa makanan kemarin, ujar Maman dalam hati. Kemarin memang dia membawa pulang banyak sisa.

Maman tidak pernah lagi membagikan sisa makanan itu ke anak jalanan atau tukang ojek. Di ibukota, semua orang memiliki gengsi yang tinggi. Bahkan anak jalanan saja menolak bila diberikan nasi sisa. Bagi mereka, yang penting dapat duit, bukan makanan.

Dengan berat hati, Maman membungkus dus sisa makanan kemarin. Ia membungkusnya dengan kantong plastik agar baunya tidak mengganggu tetangga, lalu meletakkannya di tumpukan sampah di pojok depan rumah. Kemudian, ia masuk kembali ke dalam rumah untuk menyantap dua dus sisa makanan yang tadi ia bawa pulang.

Setelah selesai menyikat makanan tersebut, Maman segera keluar untuk membungkus makanannya. Ternyata, disana sudah ada seorang anak kecil berbaju lusuh yang sedang memakan nasi basi yang baru dibuangnya beberapa saat lalu.

Anak tersebut kaget melihat si empunya nasi basi datang kembali ke tong sampah. Dia pun langsung berbalik badan dan cepat-cepat pergi, sambil tetap menenteng makanan yang baru separuh dihabiskannya. Maman terenyuh.

Maman sesekali mengintip ke luar jendela. Ia sudah meletakkan dua dus nasi di depan rumahnya. Ia berharap anak kemarin datang lagi untuk mengambilnya, karena ia sudah mempersiapkan dus makanan sisa yang baru saja dia bawa pulang dari kantor. Beberapa jam berlalu, si anak belum juga muncul.

Pagi-pagi, saat Maman keluar untuk memanaskan mesin motor tuanya, ia disambut dengan bau nasi basi. Kali ini, bau tersebut berasal dari makanan yang ia sisakan untuk anak kecil kemarin. Rupanya anak itu tidak datang dan mengambilnya.

Dengan kesal, Maman membuangnya di tumpukan sampah pojok depan rumahnya. Ia pun naik ke motor dan berangkat kerja.

Tanpa ia sadari, di balik pantulan kaca spionnya, seorang anak kecil mengendap-endap di belakangnya dan memungut sesuatu yang baru dibuang si empunya.

“Lepaskan, Bang! Ampun, Bang! Ampun! Saya ngga nyuri!” teriak anak kecil pemungut nasi basi.

Ia baru saja “disergap” Maman saat sedang menyantap makan malamnya di pinggir tumpukan sampah.

Namun anak itu segera menurunkan volume teriakannya saat melihat Maman menempelkan telunjuk di depan mulutnya, tanda menyuruh diam.

“Ampun, Bang. Saya pikir itu sudah dibuang Abang,” anak itu meminta maaf dengan ketakutan. “Iya, iya. Tidak apa. Ayo sini, duduk di teras rumah saya,” kata Maman.

Rasa penasaran Maman terobati sudah. Sebelumnya, dia heran kenapa ada orang yang mau memakan nasi basi. Ebul, begitu anak itu biasa disapa, adalah sulung dari tiga bersaudara. Ayahnya sudah dua tahun lebih bekerja sebagai buruh cuci di kompleks perumahan kumuh tempat Maman tinggal.

Sejak ayahya pergi, keluarga mereka semakin kesulitan. Satu per satu, harta benda dijual untuk membiayai adik-adiknya sekolah. Hanya Ebul yang tidak sekolah. Sebagai anak sulung, ia merasa punya tanggung jawab untuk mengalah demi adik-adik yang disayanginya.

Terus, kenapa Ebul selalu makan nasi basi?

“S-s-saya…” Ebul tampak malu. “Saya lapar, Bang. Di rumah, Emak masak selalu kurang. Kalau lapar, adik-adik saya mengeluh ngga konsentrasi belajar. Saya kasihan sama mereka. Saya bilang ke mereka kalau saya dapat makan dari bos. Jadi, setiap hari saya nyari makan di luar, biar mereka bisa makan jatah saya.”

“Tapi saya ngga pernah nyolong, Bang. Saya cuma ambil apa yang dibuang.” Maman semakin bersimpati terhadap Ebul. “Kamu kerja apa bul?”

Angkut-angkut barang di pasar, Bang. Lumayan. Bosnya baik, suka kasih lebih kalau saya angkut banyak,” jawab Ebul.

Maman dan Ebul melanjutkan obrolan mereka sampai larut malam. Tidak lupa, Maman memberikan sebuah nasi kotak untuk Ebul. Nasi yang belum basi, tentunya.

“Yang benar? Jadi saya kerja kantoran gitu, Bang? Wah, saya ngga punya baju bagus!” Ebul tampak bersemangat.

“Ya ngga lah, Bul. Kamu seperti sekolah tinggi aja,” canda Maman. “Kamu bantu saya di kantor, jadi tukang bersih-bersih. Gajinya lumayan daripada kamu angkut-angkut di pasar. Seragamnya pun dikasih sama kantor. Kamu pulang pergi ikut saya aja sekalian. Uangnya ditabung buat bantu adik.”

Ebul tidak tahu harus berkata apa lagi. Dia hanya mengangguk-angguk dengan wajah bersemangat. Maman pun sangat senang bisa membantu Ebul, sosok yang kurang lebih mirip dengan dirinya.

“Apalagi, di kantor saya tuh setiap malam banyak nasi sisa dan boleh dibawa pulang. Bisa kamu kasih ke adik-adikmu biar mereka bisa konsentrasi belajar. Ulangannya dapat nilai sepuluh, deh!” seloroh Maman, diiringi gelak tawa riang dari Ebul.

Di ujung sebuah gang sempit di pinggiran ibu kota, tidak pernah terlihat lagi sesosok anak kecli dan dekil yang sedang memakan nasi basi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s