Tawa Sakti Si Kodok Lembu

Suku Aborigin, penduduk asli Australia, memiliki sebuah legenda yang terjadi saat Masa Bermimpi, masa ketika dunia baru saja diciptakan.

Di masa itu, dulu sekali, alam Australia dipenuhi berbagai makhluk hidup yang unik. Daratan terhampar begitu luas, dan pegunungan megah berdiri di tengah-tengah daratan tersebut. Kadang, matahari bersinar cerah. Kali lain, turun hujan deras yang menyuburkan tanah. Alam tampak begitu indah dan menakjubkan.

Namun, suatu hari, kemarau parah melanda. Matahari bersinar terik, dan tak setetes air hujan pun turun. Sungai dan anak-anak sungai mengerin, dan tanah menjadi keras dan retak. Seluruh makhluk hidup merasa amat tertekan.

:Kita harus mencari tahu, apa yang telah terjadi pada sumber air kita,” kata mereka. “Kita harus berusaha membuat hujan datang kembali.” Maka pada tetua dari setiap spesies, hewan maupun manusia, berkumpul dari berbagai penjuru Australia untuk menggelar pertemuan di kaki gunung.

Kangguru datang sambil melompat-lompat, begitu pula Wallaby. Emu dan Kasuari, dua burung khas Australia yang tidak bisa terbang, juga hadir. Tak ketinggalan burung-burung yang lain (yang bisa terbang), yaitu Pelikan, Beo, dan Parkit. Burung unik dan indah, Lyrebird dan Kookaburra, turut hadir. Goanna, kadal besar Australia, melata ke tempat pertemuan. Capung, dengan warna sayap bak pelangi, melayang-layang dari atas. Platypus dan Koala, Rombat dan Bandicoot, serta Possum, berkelana dari tempat yang jauh agar bisa bergabung.

Terakhir, datang utusan dari suku Aborigin, yakni para dukun yang dikenal dengan istilah Walarima. Mereka semua tidak mau melewatkan pertemuan penting ini, karena mereka semua adalah makhluk hidup, dan makhluk hidup membutuhkan air.

Pertemuan itu berlangsung siang dan malam. Tak satu makhluk pun bisa menjelaskan apa yang telah terjadi dengan pasokan air mereka. Tidak ada yang tahu ke mana air itu pergi atau bagaimana cara mengembalikan hujan. Akhirnya, Pelikan bangkit berdiri. Ia adalah pemimpin sekelompok kecil hewan yang menghuni tanah subur di kejauhan, yang kini nyaris tandus.

“Boleh aku bicara?” ia bertanya dengan sopan. Berbagai makhluk yang sibuk berdiskusi menghentikan aktivitas mereka, lantas duduk diam dan mendengarkan. “Dalam perjalanan kesini, aku terbang cukup rendah, melewati puncak gunung.” Semua makhluk mendongakkan kepala ke puncak gunung di atas mereka, lantas kembali menatap Pelikan. “Teruskan ceritamu, ” kata mereka.

“Aku terbang begitu rendah sampai-sampai aku bisa melihat puncak gunung dengan jelas,” lanjut Pelikan. “Disana, aku melihat ada seekor kodok raksasa yang sedang tidur di atas batu karang besar. Nah, menurutku, aku tahu penyebab sumber air kita ini mengering.”

“Katakan, katakan!” seru Kangguru. “Aku yakin,” kata Pelikan, “Kodok lembu telah menelan semua air kita.”

Mendengar ini, semua hewan dan manusia langsung bicara dengan riuh-rendah. “Apa yang harus kita lakuan?” kata mereka. “Pasti Pelikan benar. Kita pernah melihat Kodok Lembu dan menyaksikan sendiri betapa besar perutnya. Jadi, apa yang harus kita lakukan?”

Kookaburra meminta mereka semua tenang. “Aku tahu persis apa yang sebaiknya kita lakukan,” ujarnya. “Kita harus membuat Kodok Lembu tertawa terbahak-bahak, sehingga mulutnya terbuka lebar dan air dari dalam perutnya bisa membanjir keluar. Bagaimana?”

Semua makhluk mengangguk setuju. Mereka sepakat bahwa mereka harus berusaha membuat Kodok Lembu tertawa. Tapi bagaimana caranya? “Tenang,”kata Kookaburra. “Ini tugas yang tepat untukku. Tak ada yang bisa menahan diri saat mendengar bunyi tawaku.”

Maka, para tetua hewan maupun manusia berangkat bersama-sama ke puncak gunung, lantas mendekati batu karang tempat Kodok Lembu duduk dengan perutnya yang besar. Semua terdiam, sementara Kookaburra mengambil tempat di depan sang kodok. Kookaburra membuka paruhnya dan keluarlah bunyi tawa yang begitu nyaring. Burung itu terus tertawa sampai suaranya menjadi serak. Apa reaksi Kodok Lembu? Ia hanya berkedip sekali dan mulutnya tetap tertutup rapat.

“Baiklah, giliran kami,” kata Kangguru.”Kami akan memaksanya membuka mulut.” Kangguru dan Wallaby pun menggelar pertunjukan tinju yang seru, tepat di depan si Kodok Lembu, berharap bisa memancing reaksinya. Kodok Lembu malah tampak bosan. Ia kembali berkedip, lantas menutup matanya dan tertidur. “Biar aku mencoba!” seru Possum, dan ia memanjat naik ke dahan tertinggi sebuah pohon getah. Disana, ia melakukan aksi akrobatik yang mencengangkan. Kodok Lembu tetap mematung dengan mulut terkatup rapat. Kini, Kasuari melangkah ke depan. Ia menari dan menari. Ia menciptakan gerakan-gerakan baru yang indah. Tapi usahanya sia-sia saja. Kodok Lembu tetap tertidur.

“Giliranku mencoba!” seru Lyrebird. “Kodok Lembu tak akan bisa menutup mulutnya melihat aksiku meniru makhluk lain.” Maka, ditengah keheningan di puncak gunung, Lyrebird mulai menggelar pertunjukan tunggal. Ia menirukan Tikus. Ia membentangkan ekornya yang indah dan menirukan Kookaburra. Aksinya sukses memancing tawa semua hewan dan manusia yang berkumpul disana. Bahkan, mereka semua tertawa begitu keras sampai-sampai daun-daun di pepohonan bergetar. Kecuali, tentu saja, si Kodok Lembu. Ia tetap duduk diam dan tak bergeming. Semua makhluk merasa semakin haus. Mereka menundukkan kepala. Sebagian mulai menangis karena putus asa.

Ketika senja hampir tiba, Belut keluar dengan malu-malu dari retakan celah di tanah kering. “Jika teman-teman mengizinkan, bolehkah aku ikut mencoba?” tanya Belut dengan suara pelan, karena ia memang sangat pemalu. “Apa, kamu mau mencoba?” Kookaburra tertawa. “Bagaimana mungkin kau bisa melalukan sesuatu yang tidak bisa kamu semua lakukan?”. “Biarkan saja dia mencoba,” tukas Kangguru. “Kita semua bisa mencoba jika memang mau, meski saat ini aku cemas Kodok Lembu tidak akan pernah mau tertawa.”

Belut pun merayap ke atas batu karang yang halus. Ia mulai menggoyang dan menggetarkan tubuhnya, meninggalkan jejak yang indah. Lantas, ia mengikat tubuhnya menjadi simpul, dan membentuk lingkaran, persegi, bintang, dan wajik. Mendadak, tanah bergetar. Para hewan dan manusia melihat perut besar si Kodok Lembu mulai berguncang. Sedetik kemudian, semua mendengar bunyi gemuruh yang dalam. Kodok Lembu menengadahkan kepalanya dan mulai tertawa. Dan ia tidak bisa berhenti.

Persis dugaan Pelikan, air keluar dengan deras dari mulut Kodok Lembu. Air yang jernih dan berkilauan membanjir sampai ke bawah gunung dan membentuk danau. Terjangan air yang begitu mendadak membuat banyak hewan di bawah gunung tidak sempat menyelamatkan diri. Syukurlah, mereka yang tidak bisa berenang segera diselamatkan oleh para dukun Aborigin dengan kano. Lalu, semua makhluk naik ke atas bukit-bukit, dan menanti sampai air mengalir ke semua sungai dan anak sungai.

Alam pun kembali segar dan hijau, dan semua makhluk bersyukur atas jasa Belut, yang telah berhasil memancing tawa si Kodok Lembu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s