Permata Paling Berharga

Alkisah, pada zaman dahulu kala, hiduplah seorang lelaki tua yang tinggal sendirian di puncak gunung. Lelaki tua tersebut adalah seorang sannyasi – artinya, ia menyerahkan semua harta duniawi yang ia miliki dan mempersembahkan seluruh hidup untuk spiritualisme. Setiap pagi, lelaki tua itu bangun dan menghadapkan tubuh ke Timur. Sambil menyaksikan Matahari terbit, ia menghaturkan doa-doanya. Hidup yang dijalani sang lelaki tua adalah hidup yang sederhana, tenang, dan jauh dari orang lain.

Akan tetapi, di desa yang terletak di kaki gunung, sebagian orang bergosip tentang dirinya. Menurut mereka, lelaki tua itu sesungguhnya bukan orang saleh. Sebaliknya, ia adalah pria kaya-raya yang pindah ke puncak gunung untuk menyembunyikan kekayaannya dari tangan-tangan jahat yang berusaha mencuri hartanya. Semakin lama, gosip itu terus menyebar semakin luas di kalangan warga desa.

“Tetapi ia tidak pernah membelanjakan uangnya,” sanggah sebagian warga yang meragukan kebenaran gosip itu. “Memang tidak, tapi suatu hari ia pasti melakukannya,” sahut para penggosip. “Kenapa mesti hidup begitu sederhana kalau ternyata ia sangat kaya?” tanya mereka lagi. Para penggosip hanya mengangkat bahu sambil berkata,”Itu adalah misteri yang hanya diketahui si lelaki tua, dan suatu hari kita akan mengungkapnya.”

Di antara warga desa, ada seorang petani miskin. Suatu malam, ia bermimpi dalam tidurnya. Di mimpi itu, ia melihat sebongkah batu rubi yang amat memukau – warnanya begitu terang bak warna cakrawala saat Matahari terbit, dan ukurannya begitu besar, nyaris sebesar kepalanya. Dalam mimpinya ini, si petani melihat bahwa batu rubi tersebut adalah milik lelaki tua yang hidup di puncak gunung.

Ketika petani miskin itu bangun, ia memutuskan bahwa ia harus memiliki batu permata yang indah itu. Mungkin, jika ia memintanya dengan baik-baik pada si lelaki tua, ia mau memberikannya.

Esok paginya, sebelum orang-orang di desa terbangun, si petani mulai melakukan pendakian panjang ke atas gunung.

Sementara itu, si lelaki tua sedang melakukan ritualnya. Begitu ia bangun dari tidurnya, ia mulai menghaturkan doa-doanya. Namun, kali ini ia mendengar bunyi langkah kaki di belakangnya. Si lelaki tua berbalik dan melihat seorang petani berpakaian lusuh yang baru saja tiba ti puncak gunung. Sambil membungkukkan badan, ia menyapa petani itu dengan ramah. “Selamat pagi. Selamat datang di puncak gunung. Apakah engkau hendak ikut berdoa bersamaku?”

Petani itu merasa gugup, tetapi ia sedang tidak ingin berdoa. Ia tidak bisa menyingkirkan bayangan batu rubi yang indah dari benaknya, jadi tanpa berpikir panjang ia mencetus, “Tidak, wahai lelaki tua. Aku datang kesini untuk mendapatkan batu rubi. Aku melihatnya di dalam mimpiku. Apakah engkau memiliki permata yang akan kau berikan kepadaku?”

Lelaki tua itu tidak menyahut. Ia hanya menjulurkan tangan ke arah gundukan rumput tinggi, dan mengambil sebutir batu rubi yang besar dari dalamnya. Kemudian, ia memberikan permata itu kepada si petani. “Ini. Ambillah disertai berkat dariku.”

Sang petani tidak bisa mempercayai matanya. Permata itu sungguh terang seperti sinar Matahari yang kini terbit di ufuk Timur, dan besarnya nyaris sama dengan ukuran kepalanya. Dengan tercengang, ia menggenggam rubi itu di kedua tangannya. “Engkau terlalu baik,” katanya gemetar. Lantas, karena takut lelaki tua itu akan berubah pikiran, si petani segera berbalik dan berlari pulang menuruni gunung.

Sambil menyembunyikan batu rubi di bawah bajunya yang compang-camping, ia bergegas menuju gubuk tempat ia tinggal. Setibanya disana, si petani meletakkan permata yang memukau itu di atas mejanya yang kecil, dan terus menatap penuh kagum. Ia memutar-mutar batu itu ke segala arah, mengelusnya, dan mencium permukaannya yang dingin.

“Aku adalah pria paling beruntung di dunia,” ujarnya, dan sepanjang hari ia hanya duduk termangu disana. Petani itu tidak sanggup makan. Ia hanya terus mengagumi batu itu dan bertanya-tanya apa yang akan terjadi sekarang, karena hidupnya telah berubah total.

“Mungkin,” pikir si petani, “besok aku bisa membawa rubi ini ke kota terdekat. Di sana, aku akan menjual rubi itu dengan harga yang amat tinggi.” Atau tidak, pikirnya lagi. “Mungkin aku harus menyimpan permata ini, menyembunyikannya di suatu tempat yang aman sampai aku membutuhkannya untuk menolongku dari kelaparan.”

Atau tidak, ia berpikir lagi. “Aku akan membawanya ke kota dan memberikannya pada pemotong batu permata, yang akan memotongnya menjadi bagian kecil-kecil. Aku bisa menjual satu atau dua bagian kecil, dan menyimpan sisanya untuk hari esok.” Tetapi bagaimana kalau pemotong batu permata menyebarkan berita pada orang-prang tentang rubi si petani? Bisa-bisa, perampok mendatangi gubuknya di malam hari. Si petani tidak akan lagi merasa aman dan hidup tenang.

Sepanjang malam, si petani terus menatap batu rubi tersebut. Lama-kelamaan, ia mulai memikirkan si lelaki tua di puncak gunung, terutama betapa mudahnya ia menjulurkan tangan ke rerumputan dan mengambil rubi itu. Ia memikirkan kehidupan sederhana si lelaki tua – jubahnya, pengabdiannya, senyumnya yang tulus.

Maka sekali lagi, sebelum fajar tiba, si petani berjalan mendaki gunung. Kali ini ia membawa batu rubi bersamanya. Saat Matahari mulai terbit, lelaki tua di puncak gunung terbangun dan mulai menghadapkan tubuh ke Timur untuk berdoa, tetapi ia kembali mendengar bunyi langkah kaki di belakangnya. Ketika ia berbalik, ia menemukan si petani berdiri di sana.

“Selamat pagi,” sapa si lelaki tua dengan ramah. Petani itu menyerahkan rubi di tangannya kepada si lelaki tua. “Aku tidak mau menyimpan benda ini,” katanya. “Tetapi aku punya satu permintaan.” Sang lelaki tua mengangguk. “Aku ingin engkau mau menjadi guruku. Aku ingin belajar darimu. Aku ingin tahu bagaimana engkau bisa memberikan rubi ini kepadaku dengan begitu mudah.” Sang lelaki tersenyum. “Anakku, sesungguhnya engkau sudah mulai belajar,” katanya.

One thought on “Permata Paling Berharga

  1. Mandy

    We have decided to open our POWERFUL and PRIVATE web traffic system to the public for a limited time! You can sign up for our UP SCALE network with a free trial as we get started with the public’s orders. Imagine how your bank account will look when your website gets the traffic it deserves.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s