Mengulik Kandungan Nutrisi Produk Organik

Produk organik yang menyerbu pasar kita belakangan ini memiliki daya tarik tersendiri. Di tengah klaim superioritas produk organik, benarkah jenis makanan ini lebih bernutrisi daripada produk konvensional? Studi terbaru mencoba menjawabnya.

Di bagian buah dan sayuran di supermarket, anda menimbang dua kotak strawberry di tangan anda. Apakah strawberry organik di tangan kiri saya ini mengandung lebih banyak vitamin C daripada strawberry non organik di tangan kanan? Belum tentu.

Tim ilmuwan di Stanford University, yang melakukan studi perbandingan produk organik dan produk konvensional selama empat dekade, mengungkap hasil penelitian terbaru: buah dan sayur yang dilabeli organik ternyata tidak mengandung nutrisi lebih banyak dibandingkan produk konvensional.

Memang, buah dan sayur konvensional memiliki residu pestisida yang lebih banyak, tapi levelnya nyaris selalu berada di bawah standar keselamatan yang diperbolehkan. Menurut para ilmuwan tersebut, Environmental Protection Agency membuat batasan pada level yang tidak berbahaya bagi manusia.

Hasil studi yang diterbitkan di dalam jurnal Annals of Internal Medicine ini, menurut dr. Dena Bravata, staf senior di Center for Health Policy, Stanford University serta penulis senior studi, mengejutkan. Masalahnya, para ilmuwan sebelumnya menduga akan menemukan hasil yang menyatakan bahwa produk organik lebih bernutrisi dari produk konvensional. Tapi ternyata tidak.

Studi tersebut dilakukan dengan menganalisis data dari 237 penelitian terhadap beragam buah, sayur, dan daging. Para peneliti melakukan analisis statistik untuk menemukan manfaat kesehatan dari menyantap makanan organik.

Satu temuan dari studi tersebut adalah bahwa produk organik secara keseluruhan mengandung level fosforus yang lebih tinggi dari produk konvensional. Namun, karena nyaris semua orang mendapatkan cukup fosforus dari beragam jenis makanan, kata mereka, maka tingkat fosforus yang lebih tinggi dalam produk organik tidak terlalu memberikan manfaat kesehatan.

Produk organik juga mengandung lebih banyak komponen yang dikenal dengan nama phenol, yang diyakini membantu mencegah kanker, dibandingkan produk konvensional. Meski perbedaannya signifikan secara statistik, besaran perbedaan dari studi ke studi cukup beragam, dan data yang ada didasarkan atas pengujian terhadap sejumlah kecil sampel saja.

Variabel lain, seperti tingkat kematangan, memiliki pengaruh lebih besar terhadap kandungan nutrisi. Karena itu, buah matang yang tumbuh dengan penggunaan pestisida bisa saja mengandung lebih banyak vitamin dibandingkan buah organik yang belum matang.

Para peneliti Stanford mendapati bahwa 38 persen produk konvensional yang diuji dalam studi-studi tersebut mengandung residu pestisida yang bisa dideteksi, dibandingkan dengan hanya 7 persen pada produk organik. Namun, produk organik masih bisa tercemar pestisida yang terbawa angin dari lahan tetangga atau selama pengolahan dan pengiriman.

Meski begitu, temuan studi ini sepertinya tidak akan menggoyahkan keyakinan para penggemar makanan organik. Mengapa? Menurut Lunder dari Environmental Working Group, alasannya sederhana: argumen bahwa produk organik lebih bernutrisi bukan alasan utama mengapa seseorang memilih makanan organik.

Sebaliknya, motivasi orang memilih produk organik adalah untuk mengurangi pemaparan terhadap pestisida, terutama bagi wanita hamil dan anak-anak kecil.

Para penggemar produk organik membela diri dengan menunjuk tiga studi yang diterbitkan tahun lalu oleh para ilmuwan dari Columbia University, University of California di Berkeley, dan Mount Sinai Hospital di Manhattan. Studi-studi tersebut meneliti wanita hamil yang terpapar jenis pestisida organophosphates yang tinggi, lantas menyusui anak-anak mereka selama beberapa tahun. Saat duduk di bangku SD, anak-anak tersebut secara rata-rata memiliki skor IQ beberapa poin lebih rendah dari skor teman-teman mereka.

Selain itu, studi Stanford juga dianggap tidak mengapresiasi perbedaan menonjol yang ditemukan antara dua jenis pangan tersebut. Perbedaan yang mengesahkan alasan seseorang untuk memilih produk organik: produk organik tidak memiliki jejak pestisida. “Alasan ini adalah motivator terbesar bagi konsumen organik,” ujar Christine Bushway, direktur eksekutif asosiasi perdagangan.

Menanggapi hasil studi Stanford ini, Prof. Dr. Ali Khomsan, Guru Besar Departemen Gizi Masyarakat IPB, menegaskan, “Klaim-klaim tentang pangan organik seharusnya dilakukan secara wajar dan tidak berlebihan. Belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa pangan yang dihasilkan dari pertanian organik lebih sehat, lebih bergizi, dan lebih aman. Sebagian pakar mengatakan pangan organik mempunyai kandungan gizi dan tingkat keamanan pangan yang relatif sama dengan pangan konvensional lainnya.”

Prof Ali menjelaskan kembali definisi dari produk organik dan produk konvensional. “Semua jenis pangan yang berasal dari organisme hidup, baik hewan maupun tumbuhan, sesungguhnya dapat dikatakan produk organik. Pengertian organik sendiri adalah sesuatu yang mengandung karbon. Namun, saat ini istilah organik digunakan secara terbatas untuk produk-produk tanaman yang tidak(hanya sedikit) menggunakan pestisida dan pupuk buatan,” papar Prof. Ali.

Jadi, dalam pertanian organik, produk-produknya tidak bersentuhan dengan senyawa kimiawi seperti copper, sulfur, nikotin, yang merupakan bahan pembuat pestisida. Pertanian organik lebih sering dikaitkan dengan pupuk kandang dan kompos.

Sementara itu, menurut Prof. Ali, istilah pangan konvensional digunakan untuk menggambarkan produk yang dihasilkan dengan teknik budidaya yang lazim, seperti penggunaan pupuk buatan, pestisida, dan bibit unggul.

“Pada 1998, Departemen Pertanian AS mengusulkan bahwa pangan yang dijual di pasaran boleh mengklaim diproduksi secara organik apabila paling sedikit 50 persen bahan penyusunnya memang diproduksi secara organik. Untuk pangan kemasan, disyaratkan 95 persen bahannya dihasilkan melalui pertanian organik, dan produk tersebut tidak boleh mengandung nitrat, nitrit, dan sulfit,” jelas Prof.Ali. “Masalahnya, di Asia, peraturan-peraturan tentang pangan organik belum seketat di negara maju seperti AS atau Eropa.”

Jadi, jika produk organik ternyata tidak lebih bergizi dan tidak lebih aman dari produk konvensional, apa kelebihannya? Produk organik dianggap telah berjasa menyelamatkan lingkungan dengan meminimalkan penggunaan pestisida dan pupuk buatan. “Kekhawatiran orang terhadap pangan konvensional tidak terlepas dari penggunaan bahan kimia,” ujar Prof. Ali. “Tidak sedikit orang yang mempertanyakan keamanan residu pestisida dalam bahan makanan yang dikonsumsi sehari-hari yang kemungkinan dapat berakumulasi dalam tubuh. Apalagi, ada sinyalemen bahwa residu pestisida dalam tubuh manusia bisa bersifat karsinogenik atau menyebabkan kanker.”

Menurut Prof. Ali, banyak penelitian tentang bahaya pestisida yang dilakukan pada hewan percobaan seperti tikus, kelinci atau monyet. Namun, tentu saja sistem metabolisme hewan-hewan ini berbeda dengan manusia. Penelitian tentang dampak pestisida pada manusia sendiri jumlahnya masih sangat terbatas. “Kontroversi mengenai dampak pestisida terhadap kesehatan mungkin akan terus ada,” kata Prof. Ali.

Meski demikian, Prof. Ali menegaskan bahwa pertanian konvensional berhasil meningkatkan produk-produk pertanian sebagai sumber pangan masyarakat dunia. Penggunaan bibit unggul HYV(High Yield Variety), pestisida untuk mengatasi serangan hama, dan pupuk buatan yang meningkatkan kesuburan tanah bisa menghasilkan produk pertanian yang berlimpah, dan ini merupakan terobosan penting dalam mengantisipasi jumlah penduduk dunia yang meningkat pesat. Sebaliknya, pertanian organik tak akan mampu menghasilkan pangan yang cukup untuk seluruh umat di dunia.

Pada akhirnya, mengkonsumsi produk organik atau produk konvensional adalah pilihan pribadi setiap individu. Yang penting, anda sudah membekali diri dengan wawasan mengenai masing-masing produk tersebut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s