Kelinci dan Sup Kacang Merah

Di afrika, jaman dahulu kala, hiduplah seekor kelinci liar yang nakal dan amat pemalas. Kelinci ini gemar tidur dan menjahili penghuni alam liar lain. Suatu hari, si Kelinci terbangun dari tidurnya setelah mimpi yang begitu indah. Di dalam mimpi itu, ia menyantap masakan yang lezat sekali, meski tidak jelas apa yang ia makan. Kelinci pun berharap bisa membuat mimpinya menjadi nyata.

Kalian perlu tahu bahwa Kelinci ini bersifat licik dan amat pemalas. Dia tida mau berusaha sendiri, ia lebih suka membiarkan orang lain melakukan pekerjaan untuknya. Itu sebabnya dia malah melompat-lompat berkeliling, mencari seekor hewan yang akan memberinya makanan.

Ia melihat Gajah sedang duduk di perapian. Gajah tengah mengaduk sesuatu di dalam panci besar yang aromanya begitu sedap. “Mmm,” kata Kelinci pada dirinya sendiri,”Aku mencium bau kacang merah!”

Ia melompat-lompat ke sisi Gajah. “Wahai Sobat,” sapanya dengan licik. “Kenapa kamu sendirian disini di pagi yang indah ini?”

Si Gajah berdehem dan menoleh. Ia melihat Kelinci sudah duduk di dekatnya. “Pergilah,” katanya. “Kamu tidak lihat aku sedang sibuk? Aku mendapat tugas memasak hari ini. Hewan-hewan lain sedang bekerja di lading.”

Kelinci mengelus-elus kumisnya yang panjang. “Mmm,” katanya sambil menyilangkan kaki dan memangku dagu di atas kedua cakar depannya. Setelah beberapa saat, Kelinci berkata, “Gajah,” dengan nada penuh rasa kagum,”Aku baru pernah melihat sosokmu dengan jelas. Aku jadi paham kenapa semua hewan membicarakan betapa indahnya dirimu. Rambutmu itu lho, bagus sekali. Kamu keberatan tidak kalau aku mengelusnya?”

Jangan heran, pada masa itu para gajah memang memiliki surai yang tumbuh di leher dan punggung mereka. Gajah yang satu ini begitu bangga dengan surai hitamnya yang tebal dan panjang, karena itu pujian Kelinci membuatnya berseri-seri.

“Ya, aku mengizinkanmu meneglus rambutku,” kata Gajah.”Bagus kan?”. “Betul! Bagus sekali!” sahut Kelinci. Ia berjinjit dengan lembut mengelus rambut Gajah. Gajah pun menghela napas senang.

“Ck,ck,ck. Indahnya..” kata Kelinci. “Eh, boleh tidak Gajah kalau aku kepang rambutmu?”. Gajah menutup kedua matanya. ”Silakan saja,” katanya. Kelinci pun mulai mengepang rambut Gajah. Merasa nyaman, Gajah perlahan-lahan menurunkan tubuhnya ke atas tanah. Tak lama kemudian, ia sudah tertidur nyenyak.

Ketika Kelinci melihat ini, ia terkekeh. Rencananya berjalan mulus. Ia mengambil kepangan panjang rambut Gajah dan mengikatnya dengan kencang ke sekeliling batang pohon yang ada di dekat situ. “Nah, sudah,” katanya lega. “Dia sudah terikat kuat ke pohon.”

Setelah itu, Kelinci berdiri membelakang Gajah dan menghadap ke arah panci yang masih hangat. Ia mulai menyantap sup kacang merah langsung dari panci. Ketika panci itu sudah licin tandas, ia melompat-lompat lagi dan bersembunyi di balik bebatuan tak jauh darisitu.

Ketika hewan-hewan lain kembali dari lading, mereka mendapat Gajah sedang tertidur lelap. “Apa-apaan, nih!” seru mereka, membuat Gajah terbangun seketika. Tetapi ketika ia mencoba berdiri, ia jatuh lagi ke tanah, karena ia terikat kencang ke batang pohon.

Tawa para hewan meledak, dan Gajah tersipu-sipu malu. Mereka terus tertawa dan tertawa sampai salah satu dari mereka mengangkat tutup panci dan menyadari bahwa seluruh kacang merah di dalamnya sudah ludes. Kalau yang ini, kata mereka, sama sekali tidak lucu. Gajah member tahu mereka, dengan penyesalan dan rasa malu yang besar, apa yang persisnya terjadi.

Setelah mengetahui kejadian sebenarnya, amarah para hewan pun bangkit. Mereka pun sepakat bahwa mereka harus membalas tipu daya Kelinci. Maka, keesokan paginya mereka semua berangkat, sesuai rencana, untuk bekerja di lading. Seperti sudah diduga, tanpa butuh waktu lama, Kelinci dating sambil melompat-lompat. Wajahnya dihiasi senyum lebar. Ia melihat panci besar di atas api seperti kemarin, tetapi kali ini, tak seekor hewan pun tampak disitu.

“Mmm,” gumam Kelinci, sambil berjalan mendekati panci dan duduk di batu besar dekat situ. Setelah menoleh ke sekeliling untuk memastikan tak ada seekor hewan pun di sana, ia mengangkat tutup panci dan mulai makan. Mendadak, Kelinci mendengar suara dari tanah yang mengatakan, “Nah ya, ketahuan!”.

Kelinci melihat sekeliling. Tidak ada siapa-siapa. Ia kembali melanjutkan makan. “Para pemilik sup kacang merah ini akan segera dating,” suara misterius itu terdengar lagi. “Kamu akan menjadi santapan lezat bagi mereka semua.”

Mendengar itu, Kelinci mulai gemetar ketakutan, karena ia yakin tidak mengkhayalkan suara itu. Suara itu benar-benar ada. Ia terus melihat sekeliling, tetapi tetap tidak melihat seekor hewan pun. “Tolong, jangan sakiti aku,” ia memohon. “Kenapa tidak?” tanya suara itu. “Kamu sudah mencuri semua makanan kami!”

“Si.. siapa kamu?” tanya Kelinci, suaranya bergetar karena takut. Sebelum suara itu menyahut, Kelinci merasakan tanah bergejolak. Ia berputar tepat pada waktunya untuk melihat seluruh hewan di alam liar berderap menuju tempatnya duduk. Sebelum ia sempat kabur, seluruh hewan itu sudah mengepungnya.

“Aha, lihat kami berhasil menangkapmu,” ujar suara itu, dan saat itulah Kelinci melihat bahwa batu besar yang dia duduki ternyata sama sekali bukan batu, melainkan Kura-kura, yang kini mengeluarkan kepalanya dari dalam cangkang.

“Habislah kau!” kata si Kura-kura. Kelinci menjerit. Lantas, setelah berpikir cepat, ia menjatuhkan diri ke tanah dan pura-pura pingsan. “Hore, kita berhasil membuat Kelinci jera,” seru hewan-hewan tersebut. Lantas, mereka mulai menyantap sup kacang merah di dalam panci. Gajah adalah hewan yang paling senang di antara mereka semua, sampai-sampai ia menyantap sup lebih banyak dari porsinya.

Selama hewan-hewan makan, Kelinci terus berbaring kaku. Ketika mereka sudah pergi kembali ke lading dan suasana sunyi-senyap, Kelinci bangkit kembali, dan berjalan tanpa suara kea rah semak-semak.

Ketika ia sudah cukup jauh, ia berbalik dan berteriak, “Kalian tak akan pernah bisa menangkap Kelinci!” Lalu ia terkekeh nyaring dan panjang. Untuk waktu lama, hewan-hewan kerap mendengar bunyi tawa dari kejauhan, tetapi mereka tidak ambil pusing. Yang penting, sejak hari itu, sup kacang merah mereka selalu aman. Kelinci harus mencari korban lain untuk dikelabui.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s